Dengarkan Lagi

 

Aku mengajak diriku bicara dalam sekali, lebih dalam dari apa yang biasa aku renungi. Untuk kali ini aku tidak akan terlalu memikirkan pilihan kata, kubiarkan mengalir  kemana saja pikiranku membawa. Memang tidak ada yang tahu rencana ilahi, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi, tidak tahu apa saja yang tersimpan didalam hati.

Jauh dari ini, aku ingin menangis sejadi-jadinya, aku ingin meneriaki semesta, aku ingin meringkuk melupakan apa saja. Betapa tidak, sudah terlalu berat rasanya, sudah terlalu penuh sesak pada dada.

Jika saja hal ini terjadi beberapa tahun silam, mungkin aku akan melakukannya. Tidak dengan sekarang, bukankah aku telah banyak belajar, banyak mendengar, bahkan sudah terlalu hapal dengan segala kemungkinan yang terjadi, aku sudah akrab begini, menikmatinya sendiri, kemudian berdamai bersama hati.

Bukan aku mengabaikannya, tapi hal yang aku pahami bahwa mencintai itu tulus, mencintai itu ikhlas, apapun yang terjadi selanjutnya, setidaknya aku telah melakukan keduanya.

Rasanya tidak ada pengetuk yang paling sempurna selain doa, langit dan hati ia luluhkan begitu saja, aku percaya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sesak Enggan Beranjak