Tautan Hari

Hitungan jam lagi tahun kali ini akan berganti. Tidak ada rencana khusus yang Aku jadwalkan. Perihal perayaan, atau tentang segala keseruan tahunan. Aku hanya ingin melihat kebelakang dalam-dalam, lalu menatap rencana kedepan tajam-tajam.
Tentang jutaan pelangi, ada juga lautan bara api. Tidak itu berlebihan, nyatanya itulah kehidupan.
Aku tahu, terlalu banyak syukurku yang terlewatkan. Ada banyak tumpahan doa yang lupa aku aminkan.
Diriku yang tak pandai berterima kasih tulus, Aku yang perlu belajar banyak tentang ikhlas,
tambah juga sikapku yang akrab dengan egois.
Aku belajar banyak hal dari orang-orang disekitarku, dari orang-orang dijalalan yang biasa Aku menuju.
Betapa tidak tahunya Aku tentang arti kehidupan sesungguhnya, betapa malunya diriku yang biasa mengeluh perihal dunia. Betapa terlalu memaksanya aku tentang ramainya hidup yang sementara.
Jika kita bisa membuka mata lebar-lebar. Banyak dari mereka diluar sana yang hidup bermodal sabar. Mereka tak menuntut lebih dari Yang Maha Pandai Menakar. karena mereka sadar, tidak akan ada kata sukar jika mereka berserah pada Yang Maha Besar.
Aku belajar banyak dari jalan raya, lebih tepatnya pada mereka yang menggantungkan hidup di atasnya. Sesekali mari kita bicara bersama, betapa sederhananya arti bahagia.
Jutaan harapan, Aku yakin masing-masing dari kita akan merapalkan. tentang segala kebaikan, Aku bantu ucap semogakan.
Esok, masih ada rintangan yang perlu kita cari jalan keluarnya. Tumpukan masalah, keluh kesah, rasa resah, dan gundah yang tak sudah. Itu semua pasti ada, hal yang biasa. Jika tidak begitu maka bukan manusia namanya. Hal yang demikian bukan jadi alasan kita untuk lemah lalu menyerah.
Meski kadang lelah, semoga kita tidak menjadi orang yang akrab dengan kalah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dengarkan Lagi

Sesak Enggan Beranjak